Selasa, 06 September 2011

pencemaran udara

I. PENDAHULUAN

Udara dimana dalamnya terkandung sejumlah oksigen, merupakan komponen ensensial bagi kehidupan baik manusia maupun makhluk hidup lainnya. Udara merupakan campuran dari gas, yang terdiri dari sekitar 78% Nitrogen, 20% Oksigen, 0,93% Argon, 0,03% CO2, dan sisianya terdiri dari Ne, He, CH4, dan H2. Udara dikatakan ’’normal’’ dan dapat mendukung kehidupan manusia apabila komposisinya seperti tersebut di atas, sedangkan apabila terjadi perubahan gas-gas lain yang menimbulkan gangguan serta perubahan komposisi tersebut, maka dikatakan udara sudah tercemar atau terpolusi.
Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana , misalnya di dalam rumah, sekolah, dan kantor. Pencemaran ini sering disebut pencemaran dalam ruangan (indoor pollution). Sementara itu pencemaran di luar rungan (outdoor pollution) berasal dari emisi kendaraan bermotor, industri, perkapalan, dan proses alami makhluk hidup. Sumber pencemar udara dapat diklasifikasikan menjadi sumber diam terdiri dari pembangkit listrik, industri, dan rumah tangga. Sedangkan sumber bergerak adalah aktifitas lalu lintas kendaraan bemotor dan transportasi laut. Data BPS tahun 2004, di beberapa provinsi terutama kota-kota besar seperti Medan, Surabaya, Jakarta, dan Makassar, emisi kendaraan bermotor merupakan kontribusi terbesar terhadap konsentrasi NO2 dan CO di udara yang jumlahnya lebih dari 50%.
Penurunan kualitas udara yang terus terjadi selama beberapa tahun terakhir menjunjukkan bahwa betapa pentingnya digalakkan usaha-usaha pengurangan emisi ini, baik lelalui penyuluhan kepada masyarakat ataupun dengan mengadakan penelitian bagi penerapan teknologi pengurangan emisi.
Akibat aktivitas perubahan manusia udara seringkali menurun kualitasnya. Perubahan kualitas ini dapat berupa perubahan sifat-sifat fisis maupun perubahan sifat-sifat kimiawi, dapat berupa pengurangan maupun penambahan salah satu komponen kimia yang terknadung dalam udara, yang lazim dikenal sebagai pencemaran udara. Kualitas udara yang dipergunakan untuk kehidupan tergantung dari lingkungannya. Kemungkinan disuatu tempat dijumpai debu yang bertebaran dimana-mana dan berbahaya bagi kesehatan.
Pencemaran udara terutama di kota-kota besar telah menyebabkan menurunnya kualitas udara sehingga mengganggu kenyamanan bahkan telah menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan. Menurunnya kualitas udara tersebut terutama disebabkan penggunaan bahan bakar fosil untuk sarana transportasi dan industri yang umumnya terpusat di kota-kota besar, disamping kegiatan rumah tangga dan kebakaran hutan atau lahan.
Dampak negatif akibat menurunnya kualitas udara cukup berat terhadap lingkungan terutama kesehatan manusia yaitu: menurunnya fungsi paru, peningkatan penyakita pernapasan, dampak karsinogen, dan beberapa penyakit lainnya. Selain itu pencemaran udara dapat menimbulkan bau, keruskan materi, gangguan penglihatan, dan dapat menimbulkan hujan asam yang merusak lingkungan.
Sumber pencemaran udara yang utama adalah berasal dari transportasi terutama kendaraan bermotor yang mengunakan bahan bakar yang mengandung zat pencemar 60% dari pencemaran yang dihasilkan CO dan sekitar 15% dari hidrokarbon. Sumber pencemar lainnya adalah pembakaran, proses industri, pembuangan limbah, dan lain-lain. Pada beberapa daerah perkotaan , kendaraan bermotor menghasilkan 85% dari seluruh pencemaran udara yang terjadi, kendaraan bermotor ini merupakan pencemar yang bergerak yang menghasilkan CO, hidrokarbon yang tidak terbakar sempurna, NOX, SOX, dan partikel. Pencemar udara yang lazim dijumpai dalam jumlah yang dapat diamati pada berbagai tempat khususnya kota-kota besar, antara lain adalah:
1. Nitrogen Oksida (NOX), yaitu senyawa jenis gas yang terdapat di udara bebas, sebagian besar berupa gas NO dan NO2 serta berbagai jenis oksida dalam jumlah yang lebih sedikit. Gas NO tidak berwarna dan tidak berbau, sedangkan gas NO2 berwarna coklat kemerahan, berbau tidak sedap dan cukup menyengat. Gas NOX ini berbahaya bagi kesehatan dan ternak, dan di kawasan pertanian dapat merusak hasil penan.
2. Belerang Oksida (SOX), khususnya SO2 dan SO3 adalah senyawa gas berbau tidak sedap, yang banyak dijumpai di kawasan industri yang mengunakan batubara dan kokas sebagai BB dan sumber energi utamanya. SOX juga merupakan salah satu bnetuk gas hasil kegiatan vulkanik, erupsi gunung merapi, sumber gas belerang alami (sulfatar), sumber air panas dan uap panas alami (fumarol). Oksida ini merupakan penyebab utama karat karena sangat reaktif terhadap berbagai jenis logam (membentuk logam sulfida). SOX mengganggu kesahatan, khususnya indra penglihatan dan selaput lendir saluruan pernapasan (hidung, tenggorokan, dan lambung), di kawasan pertanian, SOX ini dapat merusak hasil panen.
3. Partikel-partikel, dapat berasal dari asap (terutama hasil pembakaran kayu, sampah, batubara, kokas, dn BBm yang membentuk jelaga) dan dapat pula berupa partikrl debu halus dan agak kasar yang berasal dari berbagai kegiatan alami dan kegiatan manusia.
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KEPMEN KLH) No. Kep.02/Men-KLH/1988, yang dimaksudkan dengan pencemaran udara adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke udara dan atau berubahnya tatanan udara oleh kegiatan manusia atau proses alam sehingga kualitas udara turun hingga ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.
Udara bersih yang dihirup hewan dan manusia merupakan gas yang tidak tampak, tidak berbau, teidak berwarna maupun berasa. Meskipun demikianm, udara yang benar-benar bersih sulit didaptkan terutama di kota besar yang banyak terdapat industri dan lalu lintas yang padat. Udara yang mengandung zat pencemar dalam hal ini disebut udara tercemar. Udara yang tercemar tersebut dapat merusak lingkungan dan kehidupan manusia, kerusakan lingkungan berarti berkurangnya daya dukung alam terhadap kehidupan yang pada gilirannya akan mengurangi kualitas hidup manusia secara keseluruhan.

II. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian dari latar belakang tersebut, maka penulis dapat merumuskan beberapa masalah yang ditimbulkan akibat pencemaran udara dan pengaruhnya terhadap kesehatan yang akan ditimbulkan, yaitu:
1. Apakah ada data yang membuktikan bahwa pencemaran udara terbesar disebabkan oleh sumber transportasi !
2. Bagaimana pengaruh atau dampak dari pencemaran udara terhadap kesehatan masyarkat!
3. Apakah saja upaya yang telah dilakukan oleh instansi terkait dalam menanggani pencemaran udara sehubungan dengan banyaknya penyakit yang timbul di masyarakat !

III. PEMBAHASAN MASALAH

A. Kondisi Pertumbuhan Kendaraan

Hasil penelitian BAPEDAL (2004), dibeberapa kota besar (Jakarta, Bandung, Medan, Semarang, Surabaya, dan Makassar) menunjukkan bahwa kendaraan bermotor merupakan sumber utama pencemaran udara. Hasil penelitian di Jakarta menujukkan bahwa kendaraan bermotor memberikan kontribusi pencemaran CO sebesar 98,80%, NOX sebesar 73,40%, dan HC sebesar 88,90%. Hal ini menunjukkan bahwa masalah lingkungan telah mendapatkan cukup serius dan telah didudukan sebagai prioritas dalam pembangunan transpotrasi perkotaan yang berkelanjutan (Substannable Urban Transport Development)
Pertumbuhan kendaraan bermotor dan permasalahan pencemaran udara akibat emisi kendaraan bermotor sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan terutama di kota-kota besar. Tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia tidak dapat dihindarkan yaitu berikas 8 - 12% pertahun, sebagai contoh perkembangan kendaraan bermotor di Jakarta berkembang rata-rata 12,87 % pertahun sejak tahun 2000 sampai dengan 2005. Adapun pertumbuhan kendaraan bermotor di DKI Jakarta mulai tahun 2000 sampai dengan 2005 dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 1
Kendaraan Bermotor tidak termasuk TNI/Polri dan Cold Diesel
di Wilayah Polda Di DKI Jakarta

No Jenis 2000 2001 2002 2003 2004 2005
1.
2.
3.
4. Sepeda Motor
Mobil Penumpang
Mobil beban
Mobil Bus 804.186
458.844
189.980
169.027 865.026
535.216
205.955
190.700 921.292
574.382
217.627
207.640 991.036
617.565
228.569
226.320 1.083.853
680.794
247.377
239.901 1.155.233
686.232
263.334
248.787

Sumber : Jakarta dalam Angka.BPS ,Jakarta

Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia Tahun 1996 sampai Tahun 2005 dapat dilihat pada tabel 2, yang didominasi oleh kendaraan bermotor dua (72%), urutan kedua setelah kendaran bermotor roda dua (sepeda motor) adalah mobil penumpang (15%0, berikut mobil barang (9%), dan mobil bus (4%), dimana sebagian besar kendaraan bermotor ini menggunakan BBM berupa Premix, Premium, dan Solar. Kendaraan bermotor yang mengunakan BBM mengandung timah hitam (Leaded) berperan sebagai penyumbang polusi cukup besar terhadap kualitas udara dan kesehatan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh terjadinya krisis ekonomi yang melanda negara kita sejak tahun 1997, dimana kondisi kendaraan yang kurang baik sehingga proses pembakaran kurang sempurna.

Tabel 2
Jumlah Kondaraan Bermotor di Indonesia 1996 - 2005
(Tidak termasuk Kendaraan ABRI/POLRI dan CD)

Tahun Jenis Kendaraan Mobil Sepeda Motor Jumlah
Penumpang Barang Bus
1 2 3 4 5 6
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005 1.293.835
1.485.947
1.574.806
1.676.781
1.870.859
1.986.263
2.429.381
2.759.533
2.642.703
2.784.613 1.009.357
1.055.260
1.136.037
1.113.104
1.194.283
1.222.087
1.494.724
1.697.854
1.625.974
1.598.901 468.631
399.841
407.848
441.478
520.355
544.457
665.921
756.419
724.395
630.812 6.078.916
6.289.693
6.804.046
7.005.706
7.787.720
8.127.480
10.296.077
11.511.014
12.651.813
12.741.158 8.850.739
9.230.741
9.922.737
10.237.069
11.373.217
11.880.287
14.886.102
16.724.823
17.644.885
17.765.484

Sumber: Kepolisian Negara RI, Direktorat Lalu Lintas (Januari 2005)

Rata-rata konsumsi BBM secara Nasional berdasarkan data Pertamina (April 2005 - Agustus 2005), penjualan BBM berupa Premix, Pemium, dan Solar secara Nasional mencapai 34.499.347 KI, sedangkan perkiraan penggunaan BBM untuk transpotassi darat berdasarkan penelitian Badan Litbang Perhubungan, tahun 2004 adalah seperti terlihat pada tabel 3 sebagai berikut.
Tabel. 3
Perkiraan Pengunaan Bahan Bakar Minyak Pada Transportasi Darat

Tahun Transportasi dalam juta liter
1994
1998
2002
2005 15.500
20.200
26.000
31.000

Sumber:
Penelitian Badan Litbang Pembangunan tahun 2004



Perkiraan emisi gas yang dibuang dari berbagai kendaraan bermotor di beberapa kota besar di Indonesia dapat dilihat pada tabel 4, berikut ini:

Tabel. 4
Perkiraan Emis Gas Buang dari Berbagai Kendaraan Bermotor
di Enam kota Besar di Indonesia

Jenis Kendaraan Emisi Gas Buang dalam ton/tahun KM Tempuh 10 km/tahun
CO HC NOX SOX¬ PM
Sepeda Motor
Mobil penumpang
Taksi
Bus sedang
Bus Besar
Van
Truk kecil
Truk 2 as
Truk 3 as 120.002
197.005
21.295
68.429
12.105
106.330
34.161
2.736
2.180 38.302
26.492
2.892
8.500
2.682
12.340
3.997
1.538
1.227 971
29.832
3.879
17.699
8.799
19.488
6.693
6.304
5.074 101
1.433
353
1.402
1.507
4.479
436
1.322
1.109 101
2.134
425
2.232
1.156
1.005
603
1.390
517 10.000
13.040
193
2.899
826
6.183
2.233
993
369
TOTAL 564.292 97.971 98.738 8.142 9.563 38.577

Sumber : The Study on the Intergrated Air Quality Manajement for Jakarta

B. Pencemaran Udara

Pencemaran udara adalah kondisi udara yang tercemar dengan adanya bahan, zat-zat asing atau komponen lain di udara yang menyebabkan nerubahnya tatanan udara oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkan. Pencemaran udara mempengaruhi makhluk hidup seperti gangguan kesehatan, ekosistem yang berkaitan langsung dengan kehidupan manusia. Jenis-jenis pencemaran udara adalah:
 Menurut bentuk gas : gas, dan partikel
 Menurut tempat : ruangan (indoor) dan udara bebas (outdoor)
 Gangguan kesehatan : Iritansia asfiksia, anetesia, dan toksis
 Menurut asal, Primer dan Sekunder.




Pencemaran udara berdasarkan pengaruhnya terhadap gangguan kesehatan dapat dibedakan menjadi 4 (empat) jenis yaitu:
Iritansia. Biasanya polutan ini bersifat korosif, merangsang proses peradangan hanya pada saluran pernapasan bagian atas, yaitu saluran pernapasan mulai dari hidung hingga tenggorokan , misalnya SO2, SO3, NH3, debu. Iritasi terjadi pada saluran pernapasan bagian atas dan dapat juga mengenai paru-paru sendiri.
Asfiksia. Disebabkan oleh berkurangnya kemampuan tubuh dalam menangkap oksigen atau mengakibatkan kadar O2 menjadi berkurang. Keracunan CO mengakibatkan CO akan mengikat hemoglobin sehingga kemampuan hemoglobin mengikat O2 berkurang terjadilah Asfiksia. Yang termasuk golongan ini gas N2, oksida, CH4, H2, dan He.
Anestesia. Bersifat menekan susunan syaraf pusat sehingga kehilanggan kesadaran, misalnya eter, asetilin, propana, dan alkohol alifatis.
Toksik. Titik tangkapnya terjadinya berbagai jenis, seperti menimbulkan gangguan pada sistem pembuatan darah, misalnya benzena, fenol, toluena dan xylene, dan keracunan terhadap susunan syaraf, misalnya karbon disulfida, metil alkohol.

Uji emisi kendaraan bermotor dinilai perlu untuk disosialisasikan mengingat bahwa gas buang kendaraan bermotor memiliki andil yang cukup besar bagi pencemaran udara, yang tentunya berpengaruh pula bagi kenyamanan dan kesehatan lingkungan hidup . (Lihat tabel 5). Dalam proses stadium perkembangan suatu kota dari stadium muda ke stadium dewasa, hal tersebut merupakan gejala yang tidak dapat dihindarkan , akan tetapi yang harus disadari begitu berpengaruhnya pencemaran udara terhadap kesehatan.
Sebagai contoh gubernur DKI Jakarta melalui SK Nomor 1222 tahun 1990 menetapkan parameter baku mutu emisi kandaraan bermotor di wilayah DKI Jakarta (tebel 6), ini perlu di contoh kota lain di Indonesia untuk menetapkan baku mutu emisi untuk kendaraan, agar tidak menambah buruk kualitas udara kota yang sehari-hari kita hirup bersama.




Tabel. 5
Pengaruh Pencemaran Udara Terhadap Kesehatan

No Paremeter pencemar Dihasilkan dari jenis
Bahan Bakar (BB) Pengaruh Pada Kesehatan
1 Karbon monoksida
(CO) • Bensin / Premix
• BBM 2 Tak
• Gas • Menurunkan kapasitas darah untuk membawa oksigen.
• Melemahkan kemampuan untuk berpikir
• Memperberat penyakit jantung dan pernapasan
• Menyebabkan sakit kepala (pusing)
2 Karbon dioksida
(CO2) • Bensin / Premix
• BBM 2 Tak
• Gas • Mempengaruhi iklim dunia (global)
• Melaui ‘’ green house effect ‘’
3 Nitrogen diokasida (NO2) • Bensin/Premix
• Solar
• BBM 2 Tak • Memperberat penyakit jantung dan pernapasan
• Iritasi paru-paru
• Menyebabkan hujan asam
• Menghambat pertumbuhan
• Menurunlan visualitas atmosfer
4 Hidrokarbon (HC) • Bensin/Premix
• Solar
• BBM 2 Tak • Melalui sistem pernapasan, serta beberapa senyawa hidrokarbon dapat menyebabkan penyakit kanker
5 Partikel debu, jelaga, dan asap • BBM 2 Tak
• Solar • Menyebabkan kanker
• Memperberat penyakit jantung dan pernapasan
• Mengganggu fotosintesis pada tumbuhan
• Menurunkan visualitas atmosfer

Sumber : Kumpulan Makalah Ir. Heny Suharsono, MS pada Kursus Pengendalian Pencemaran Udara.

Tabel . 6
Parameter Baku Mutu Emisi Kendaraan Bermotor Di Wilayah DKI Jakarta

No Jenis Kendaraan Jenis BB Baku Mutu Emisi Kendaraan dalam volume
CO % NO - ppm HC - ppm Asap % Bosch
 102 mm
1
Mobil Penumpang • Bensin/Premix
• Solar
• BBM 2 Tak
• Gas 4.50 / 0
-
4.50
3.00 1.20 / 0
1.20
1.20
- 1.20 / 0
1.20
1.20
- -
5.00
5.00
-
2 Mobil Barang • Bensin/Primex
• Solar
• Gas 4.50 / 0
-
3.00 1.20 / 0
1.20
- 1.20 / 0
1.20
- -
-
-
3 Mobil Bus • Bensin/Primex
• Solar
• Gas 4.50 / 0
-
3.00 1.20 / 0
-
3.00 1.20 / 0
1.20
- -
5.00
-
4 Sepeda Motor • Bensin/primex
• BBM 2 Tak 4.50 / 0
4.50 4.50 / 0
4.50 2.80 / 0
3.60 -
-

Sumber: Keputusan Gubernur DKI Jakarta, No 1222 Tahun 1990
1. Zat-Zat Pencemar Udara

Emisi Karnon Monoksida (CO)
Asap kendaraan merupakan sumber utama bagi CO di berbagai perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60% pencemran udara di kota-kota besar disebabkan karena benda bergerak atau transportasi umum yang berbahan bakar solar terutama yang berasal dari metromini. Formasi CO merupakan fungsi dari rasio kebutuhan udara dan bahan bakar dalam proses pembakaran di dalam ruang bakar mesin diesel. Percampuran yang baik antara udara dan bahan bakar terutama yang terjadi pada mesin-masin yang mengunakan Turbocharge merupakan salah satu srategi untuk meminimalkan emisi CO. Karon monoksida yang meningkat di berbagai perkotaan dapat mengakibatkan turunnya berat janin dan meningkatkan jumlah kematian bayi serta merusak otak. Karena itu strategi penurunan kadar CO akan tergantung pada pengendalian emisi seperti penggunaan bahan katalis yang mengubah bahan CO menjadi CO2 dan penggunaan bahan bakar terbarukan yang rendah polusinya bagi kendaraan bermotor.

Emisi Nitrogen Oksida (NOX)
Sampai tahun 1999 NOX yang berasal dari alat transportasi laut di Jepang menymbangkaN 38% dari total emeisi NOX (25.000 ton/tahun). NOX terbentuk atas tiga fungsi yaitu Suhu (T), Eaktu reaksi (t), dan konsentrai Oksigen [O2], jadi NOX = f ( T, t, O2). Secara teoritis ada 3 teori yang mengemukakan terbentuknya NOX, yaitu:
a. Thermal NOX (Extended Zeldovich Mechanism), Proses ini disebabkan gas N2 yang beroksidasi pada suhu tinggi pada ruang bakar (> 1800 K). Thermal NOX ini didominasi oleh emisi NO (NOX === NO + NO2).
b. Prompt NOX , Formasi NOX ini akan terbentuk cepat pada zona pembakaran.
c. Fuel NOX, NOX pada formasi ini terbentuk karena kandungan N dalam bahan bakar.
Kira-kira 90% dari emisi NOX adalah disebabkan proses themal NOX dan tercatat bahwa dengan penggunaan HFO (Heavy Fuel Oil), bahan bakar yang biasa digunakan di kapal, menyumbangkan emisi NOX sebesar 20 - 30%. Nitrogrn oksida yang ada di udara yang dihirup oleh manusia dapat menyebabkan keruskan paru-paru. Setelah bereaksi dengan atmosfer zat ini membentuk partikel-partikel nitrat yang amat halus yang dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Selain itu zat oksida ini jika bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar dengan sempurna dan zat HC lain akan membentuk ozon rendah atau smog kabut berawan coklat kemerahan yang menyilimuti sebagai kota di dunia.

SOX (sulfur oksida : SO2, SO3)
Emisi SOX terbentuk dari fungsi kandungan sulfur dalam bahan bakar selain itu kandungan sulfur dalam pelumas juga menjadi penyebab terbentuknya SOX emisi. Struktur sulfur terbentuk pada ikatan aromatic dan alkyl. Dalam proses pembakaran sulfur dioxide dan sulfur trioxide terbentuk dari reaksi:
S + O2 === SO2
SO2 + O2 === SO3
Kandungan SO3 dalam SOX sangat kecil sekali yaitu sekitar 1 – 5%. Gas yang berbau tajam tapi tidak berwarna ini dapat menimbulkan serangan asam, gas ini pun dapat bereaksi dengan atmofer akan membentuk zat asam. Badan WHO PBB menyatakan bahawa pada tahun 1987 jumlah sulfur dioksida di udara telah mencapai ambang batas yang ditetapkan oleh WHO.

Emisi Hidrokarbon (HC)
Pada misin, emisi HC terbentuk dari bermacam-macam sumber. Tidak terbakarnya bahan bakar secara sempurna, tidak terbakarnya minyak pelumas silinder adalah salah satu penyebab munculnya emisi HC. Emisi HC pada bahan bakar HFO yang biasa digunakan pada mesin-mesin diesel besar akan lebih sedikit jika dibandingkan dengan mesin disesel yang berbahan bakar Diesel Oil (DO). Emisi HC ini terbentuk gas CH4, jenis emisi ini dapat menyebabkan leukeia dan kanker.

Partikulat Matter (PM)
Peatikel debu dalam emisi gas buasng terdiri dari bermacam-macam komponen. Bukan hanya berbentuk padatan tapi juga berbentuk cairan yang mengendap dalam partikel debu. Pada proses pembakaran debu terbentuk dari pemecahan unsur HC dan proses oksidasi sesudahnya. Dalam debu tersebut terkandung debu sendiri dan beberapa kandungan metal oksida. Dalam prose ekspansi selanjutnya di atmosfer kandungan metal dan debu tersebut membentuk partikulat . Beberapa unsur kandungan partikulat adalah karbon, SOF (Soluble Organic Fraction), debu, SO4, dan H2O. Sebagian benda partikulat keluar dari cerobong pabarik sebagai asap hitam tebal, tetapi yang paling berbahaya adalah butiran-butiran halus sehingga dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Deketahui juga bahwa beberapakota besar di dunia perubahan menjadi partikel sulfat di atmosfer banyak disebabkan karena proses oksida oleh molekul sulfur.

2. Kesehatan dan Lingkungan

Kemampuan manusia untuk mengubah atau memodifikasi kualitas lingkungannya tergantung sekali pada taraf sosial budayanya. Masyarakat yang masih primitif hanya mampu membuka hutan secukupnya untuk memberi perlindungan pada masyarakat. Sebaliknya, masyarakat yang sudah maju sosial budayanya dapat mengubah lingkungan hidup sampai taraf yang irreversible. Perilaku masyarakat ini menentukan gaya hidup tersendiri yang akan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan yang diinginkannya mengakibatkan timbulnya penyakit akibat dari perilaku.
Dalam UU No. 9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan , dalam Bab I, Pasal 2 dinyatakan bahwa ‘’ Kesehatan adalah meliputi kesehatan badan (somatik), rohani (jiwa), dan sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit , cacat, dan kelemahan ‘’. Defenisi ini memberi arti yang sangat luas pada kata kesehatan. Masyarakat adalah terdiri dari individu-individu manusia yang merupakan makhluk biologis dan makhluk sosial di dalam suatu lingkungan hidup (biosfir). Sehingga untuk memahami masyarakat perlu mempelajari kehidupan biologis bentuk interaksi sosial dan lingkungan hidup.
Dengan demikian permasalahan kesehatan masyarakat merupakan hal yang kompleks dan usaha pemecahan masalah kesehatan masyarakat merupakan upaya menghilangkan penyebab-penyebab secara rasional ,sistermatis, dan berkelanjutan. Pada pelaksanaan analisis dapmpak lingkungan maka ada kaitan antara lingkungan dengan kesehatan dapat dikaji secara terpadu artinya bagaimana pertimbangan kesehatan masyarakat dapat dipadukan kedalam analisis lingkungan untuk kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Manusia berinteraksi dengan lingkungan hidupnya lebih baik, walaupun aktivitas mausia membuat rona lingkungan menjadi rusak. Hal ini tidak dapat disangkal lagi kualitas lingkungan pasti mempengaruhi status kesehatan masyarakat, dari studi tentanh kesehatan lingkungan tersirat informasi bahwa srtatus kesehatan seseorang dipengaruhi oleh faktor hereditas, nutrisi, pelayanan kesehatan, dan perilaku.
Keadaan kesehatan lingkungan di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapat perhatian, karena menyebabkan status kesehatan masyarakat berubah seperti peledakan penduduk, penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, pembuangan air limbah, penggunaan pestisida, masalah gizi, masalah pemukiman, pelayananan kesehatan, ketersediaan obat, populasi udara, abrasi pantai, penggundulan hutan, dan masih banyak lagi permasalahan yang dapat menimbulkan satu model penyakit.
Paling tidak ada 390.000 kasus gangguan kefaalan yang terinduksi oleh dampak negatif lingkungan industri dan 100.000 kematian karena okupasional dilaporkan setiap tahun. Pencemaran udara yang disebabkan industri dan transportasi dapat menimbulkan ‘’asphyxia‘’ dimana darah kekurangan oksigen dan tidak mampu melepas CO2 disebabkan gas beracun besar konsentrasinya di dalam atomsfer seperti CO2, H2S, CO, NH3, CH4. Kekurangan ini bersifat akurat dan keracunan bersifat sistemik penyebab adalah Pb, Cd, F, dan pestisida.
Pengaruh air terhadap kesehatan dapat menyebabkan penyakit menular dan tidak menular,. Perkembangan epideminologi mengambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah. Lingkungan berpengaruh pada terjadinya penyakit seperti malartia karena udara jelek dan tinggal di sekitar rawa-rawa. Prang beranggapan bahwa penyakit malaria terjadi karena tinggal pada rawa-rawa padahal nyamuk yang bersarang di rawa menyebabkan penyakit malaria. Dipandang dari segi kesehatan lingkungan, penyakit terjadi karena interaksi antara manusia dan lingkungan.
Jadi di alam ini terdapat faktor yang menguntungkan manusia (eugenik) dan yang merugikan (disgenik). Usaha-usaha di bidang kesehatan lingkungan ditujukan untuk meningkatkan daya guna faktor eugenik dan mengurangi peran atau mengendalikan faktor disgenik. Secara naluriah manusia memang tidak dapat menerima kehadiran faktor disgenik di dalam lingkungan hidupnya, oleh karena itu kita selalu berusaha memperbaiki keadaan sekitarnya sesuai dengan kemampuannya.
Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, lingkungan hidup akan berubah pula kualitasnya. Perubahan kualitas lingkungan akan selalu terjadi sehingga lingkungan selalu berada dalam keadaan dinamis. Hal ini disertai dengan meningkatnya pertumbuhan industri disegalas bidang. Perubahan kualitas lingkungan yang cepat ini merupakan tantangan bagi manusia untuk menjaga fungsi lingkungan hidup agar tetap normal sehingga daya dukung kelangsungan hidup di bumi ini tetap lestari dan kesehatan masyarakat tetap terjamin.

3. Teknologi Penangganan Emisi dari Kendaraan

Teknologi penangganan emisi dari mesin dapat dikategorikan menjadi dua bagian besar yaitu pengurangan emisi metode primer dan pengurangan emisi metode sekunder.

Untuk pengurangan emisi metode primer dapat dilakukan sebagai berikut:
Berdasarkan Bahan Bakar
• Penggunaan bahan bakar yang rendah Nitrogen dan Sulfur termasuk penggunaan non fossil fuel
• Penggalangangan penggunaan non Petroleum Liquid Fuels.
• Penggunaan angka metan yang tinggi bagi motor diesel dan angka oktan bagi motor bensin
• Penggunaan bahan bakar gas
• Penerapan teknologi emulsifikasi (pencampuran bahan bakar dengan air atau lainnya)

Berdasarkan Perlakuan Udara
• Pengunaan teknologi Exhaust Gas Recirxulation (EGR)
• Pengaturan temperatur udara udara yang masuk pada motor.
• Humidifikasi






Berdasarkan Proses Pembakaran
• Modifikasi pada pompa bahan bakar dan sistem injeksi bahan bakar
• Pengaturan waktu injeksi bahan bakar
• Pengaturan ukuran droplet dari bahan bakar yang diinjeksikan
• Injeksi langsung air ke dalam ruang pembakaran.

Sementara itu pengurangan emisi dengan metode sekunder adalah:
• Penggunaan Selective Catalytic Reduction (SCR)
• Penerapan teknologi Sea Water Scrubber untuk aplikasi di kapal
• Penggunaan katalis magnet yang dipasang pada pipa bahan bakar
• Penggunaan katalis pada pipa gas buang kendaraan bermotor

C. Dampak Pencemaran Udara Terhadap Kesehatan

Pencemaran udara di samping berdampak langsung bagi kesehatan manusia/individu, juga berdampak tidak langsung bagi kesehatan. Efek SO2 terhadap vegetasi dikenal dapat menimbulkan pemucatan pada bagian antara tulang atau tepi daun. Emisi oleh F, SO2, dan O3 mengakibatkan gangguan proses asimilasi pada tumbuhan.

1. Efek Negatif Pencemaran udara Bagi kesehatan Tubuh

Tabel 7, menjelaskan tentang pengaruh pencemaran udara terhadap makhluk hidup. Rentang nilai menunjukkan batasan kategori daerah sesuai tingkat kesehatan untuk dihuni oleh manusia. CO, Nitrogen, O3, SO2 dan PM adalah beberapa parameter polusi udara yang dominan dihasilkan oleh sumber pencemar. Dari pantauan lain diketahui bahwa dari beberapa kota yang diketahui masuk dalam kategori tidak sehata berdasarkan ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) adalah Jakarta (26 titik), Semarang (1 titik), Surabaya (3 titik), Bandung (1 titik), Medan (6 titik), Pontianak (16 titik) Makassar (3 titik), Palangkaraya (4 titik), dan Pekan baru (14 titik).


Tabel . 7
Pengaruh Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)

Kategori Rentang Karbon monoksida (CO) Nitrogen (NO2) Ozon (O3) Sulfur dioksida (SO2) Partikulat
Baik 0 - 50 Tidak ada efek Sedikit berbau Terj luka pada beberapa jenis spesies dari tumbuhan akibat terjadi kombinasi dgn senyawa SO2 (salama 4 jam) Terj luka pada beberapa jenis spesien tumbuhan akibat terjadi kombinasi dgn senyawa O3 (selama 4 jam) Tidak ada efek
Sedang 51 -100 Perubahan kim dlm darah tapi tdk terdeteksi Berbau Terj luka pada beberapa jenis spesies tumbuhan Terj luka pada beberapa jenis spesies tumbuhan Dapat terjadi penurunan pd jarak pandang
Tidak Sehat 101 - 199 Peningkatan pada kardiovaskular pada perokok yang sdg sakit jantung Berbau serta kehilangan warna. Peningkatan reaktivitas pembuluh tenggorokan pada penderita asma Terj penurunan kemampuan pada atlit yang berlatih keras Bau,
Meningkatnya kerusakan pd tanaman Jarak pandang menurun dan dapat terjadi pengotoran dr debu di mana - mana
Sangat tidak sehat 200 - 299 Meningkatnya kardiovaskular bagi orang non perokok yang berpenyakit jantung, dan di sertai tampak beberapa kelamahan yang terlihat secara nyata Meningkatnya sensitivitas paseien yang berpenyakit asama dan jg bronchitis Olah raga yang ringin dapat mengakibatkan pengaruh pernapasan pada pasien yang mempy
penyakit paru-paru kronis Meningkatnya sensitivitas pada pasien yang mempunyai asma dan juga bronchitis Meningkatnya sensitivitas pada pasien yang mempunyai asma dan juga bronchitis
Berbahaya 300 - atas Tingkat yang berbagaya bagi semua populasi yang terpapar

Sumber : BAPEDAL, 2002 (Presentasi ISPU Januari - Desember 2002)


Tabel 8, memperlihatkan sumber emisi dan standar kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui keputusan Bepedal BPLHD Provinsi di seluruh Indonesia, mencatat bahwa adanya penurunan yang signifikan jumlah hari dalam kategori baik untuk dihirup dari tahun ke tahun sangat mengkawatirkan. Dimana pada tahun 2000 kategori udara yang baik sekitar 32% ( 117 hari dalam satu tahun) dan tahun 2003 turun menjadi hanya 6,25% ( 25 hari dalam satu tahun). Hal ini menendakan Indonesia sudah seharusnya memperketat peraturan tentang pengurangan emisi baik dari sektor industri maupun sektor transportasi darat atau laut. Selain itu tentunya penemuan-penemnua teknologi baru pengurangan emisi dilanjutkan dengan pengaplikasiannya di masyarakat menjadi suatu prioritas utasma bagi pengendalian pencemaran udara di Indonesia.

Tabel . 8
Sumber dan Standar Kesehatan Emisi gas Buang

Pencemar Sumber Keterangan
Karbon monoksida
(CO) Buangan kendaraan bermotor, beberapa proses industri Standar kesehatan : 10 mg/m3 ( 9 ppm)
Sulfur dioksida (SO2) Panas dan fasilitas pembangkit listrik Standar kesehatan : 80 ug/m3 (0,03
ppm)
Partikulat Matter Buangan kendaraan bermotor, beberapa proses industri Standar kesehatan : 50 ug/m3
Selama 1 tahun : 150 ug/m3
Nitrogen dioksida
(NO2) Buangan kendaraan bermotor, panas dan fasilitas Standar kesehatan : 100 pg/m3 ( 0,05
ppm) selama 1 jam
Ozon (O3) Terbentuk di atmosfer Standar kesehatan : 235 ug/m3 ( 0,12
ppm) selama 1 jam

Sumber : BAPEDAL, 2002 (Sumber dan Standar Kesehatan emisi gas buang)

2. Pengaruh Pencemaran Udara dan Cara Penanggulangan

Dampak atau pengaruh pencemaran udara dapat berpengaruh terhadap makhluk hidup baik secara langsung maupun tidak langsung hal ini dapat dilihat pada tabel 9 dan tabel 11, sedangkan cara penanggulangan pencemaran udara dapat dilakukan dengan cara mengurangi polutan dengan alat-alat, mengubah polutan, melarutkan polutan dan mendispersikan polutan, penanggulangan pencemaran udara berbentuk partikel dan gas dapat dilihat pada tabel 10 dan tabel 12.







Tabel . 9
Dampak Pencemaran Udara berupa Gas Terhadap Kesehatan Masyarakat

No Bahan Pencemar Sumber Dampak/ Akibat pada Individu
1 Sulfur Dioksida
(SO2) Batu bara atau Bahan Bakar Minyak yang banyak mengandung sulfur.
Pembakaran limbah dr Pertanian.
Proses dalam industri Menimbulkan efek iritasi pada saluran napas sehingga menimbulkan gejala batuk dan sesak napas
2 Hidrogen Sulfida
(H2S) Dari kawah gunug yang masih aktif Menimbulkan bau yang tidak sedap, dapat merusak indera penciuman
(nervus olfactory)
3 Nitrogen Oksida
(N2O)
Nitrogen Monoksida
(NO)
Nitrogen Dioksida
(NO2) Berbagai jenis
sumber pembakaran
Gas buang lendaraan bermotor
Bahan peledak dan pabrik pupuk Mengganggu sistem pernapasan

Melemahkan sistem pernapasan paru dan saluran napas sehingga paru mudah terserang infeksi
4 Amonik = amonium
(NH3) Proses Industri Menimbulkan bau yang tidak sedap atau menyangat.
Menyebabkan sistem pada pernapasan, Bronchitis, dan merusak indra penciuman
5 Karbon Dioksida
(CO2)
Karbon Monoksida
(CO)
Hidrokarbon Semua pembakaran dari proses industri dan transportasi Menimbulkan efek sistematik, karena meracuni tubuh dengan cara pengikatan hemoglobin yang amat vital bagi oksigenasi jaringan tubuh akibatnya apabila otak kekurangan oksigen dapat menimbulkan kematian.
Dalam jumlah kecil dapat menimbulkan gangguan berfikir, gerakan otot, dan gangguan jantung.

Tabel . 10
Penganggulangan Pencemaran Udara yang Berbentuk Gas

No Bahan Pencemar Pananggulangan Keterangan
1 Sulfur Dioksida
(SO2)
Hidrogen Sulfida
(H2S)
Nitrogen Oksida
(N2O)
Nitrogen Monoksida
(NO) Absorbsi Dalam proses absorbsi dipergunakan bahan-bahan padat yang dapat menyerap polutan. Berbagai tipe adsorben yang dipergunakan antara lain karbon aktif dan silikiat. Adseorben mempunyai daya kejenuhan sehingga selalu diperlukan pergantian, bersifat disposal (sekali pakai buang) atau dibersihkan kemudian dipakai kembali
Nitogen Dioksida
(NO2)
Amoniak = amonium
(NH3)
Karbon Dioksida
(CO2)
Karbon Monoksida
(CO)
Hidrokarbon
2 Pembakaran Mempergunakan proses oksidasi panas untuk menghancurkan gas hidrokarbon yang terdapat di dalam polutan.
Hasil pembakaran berupa CO2 dan H2O.
Alat pembakarannya adalah Burner dengan berbagai tipe dan temperaturnya adalah 1200o – 1400o F
3 Reaksi Kimia Banyak digunakan pada emisi golongan Nitrogen dan golongan Belerang.
Biasanya cara kerja ini merupakan kombinasi dengan cara-cara lain, hanya dalam pembersihan polutan udara dengan reaksi kimia yang dominan.
Membersihkan gas golongan Nitrogen, caranya dengan diinjeksikan amonika (NH3) yang akan bereaksi secara kimia dengan NOX dan membentuk bahan padat untuk mengendap.
Untuk menjernihkan golongan belerang dipergunakan Copper Oksid atau kapur dicampur dengan arang












Tabel . 11
Dampak Pencemaran Udara berupa Partikel Terhadap Kesehatan Masyarakat

No Bahan Pencemar Sumber Dampak/ Akibat pada Individu
1 Debu - partikel Debu yang berasal dari domestik
maupun dari industri
Gas buang kendaraan bermotor


Peleburan dari timah hitam pabrik battere Dapat menimbulkan iritasi mukosa, Bronchitis, menimbulkan fibrosis paru.

Dampak yang ditimbulkan tersebut sangat membahayakan, karena dapat meracuni sistem pembentukan darah merah
Menimbulkan gangguan pembentukaan sel darah merah .
Pada anak kecil dapat menimbulkan penurunan kemampuan otak.
Pada orang dewasa dapat menimbulkan anemia dan gangguan tekanan darah tinggi.
2 Benzen Kendaraan bermotor dan daerah industri Menimbulkan gangguan syaraf pusat.
3 Partikel dari polutan yang bersifat biologis (bakteri, jamur, virus, telur cacing) Daerah yang kurang bersih lingkungannya Pada pencemaran udara ruangan yang ber-AC dijumpai beberapa jenis bakteri yang menimbulkan penyakit pernapasan

Tabel . 12
Penganggulangan Pencemaran Udara yang Berbentuk Partikel
No Bahan Pencemar Pananggulangan Keterangan
1 Debu - partikel timah hitam (Pb)
Benzen
Partikel polutan yang bersifat biologis.
 Bakteri
 Jamur
 Virus
 Telur cacing Membersihkan atau (Scrubbing)





Menggunakan filter




Mempergunakan kolektor mekanis.






Program langit biru










Menggalakkan pada penanaman tumbuhan Dapat mempergunakan cairan untuk memisahkan polutan, dalam keadaan, dalam keadaan alamiah (turun hujan) maka polutan partikel dapat turun kebawah bersama air hujan. Alat scrubbing ada berbagai jenis, yaitu berbentuk plat, masif, fibrous dan spary.
Dengan menggunakan filtrasi tersebut dimaksudkan untuk menangkap polutan partikel pada permukaan filter.
Filter yang digunakan berukuran sekecil mungkin.
Dengan menggunakan tenaga secara gravitasi dan tenaga kinetis atau kombinasi untuk mengendapkan polutan partikel.
Sebagai kolektor dipergunakan gaya sentripetal (fs) yang memakai silikon, semakin besar partikel secepat mungkin proses pembersihan.
Program Langit Biru (PLB) yang dengung-degungkan oleh pemerintah Indonesia RI adalah mengurangi pencemaran udara, khususnya dari akibat transportasi.
Ada 3 tindakan yang dilakukan terhadap pencemaran udara akibat transportasi yaitu menggantin bahan bakar, mengubah mesin kendaraan, dan memasang alat-alat pembersih polutan kendaraan.
Mempertahankan ‘’ paru-paru ‘’ kotan dengan memperluas pertamanan dan penanaman berbagai jenis tumbuh-tumbuhan sebagai penangkal pencemaran udara.




















IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan dari makalah yang yang berjudul Dampak Pencemaran Udara yang diakibatkan oleh Sumber Transportasi Terhadap Kesehatan maka dapat disimpulkan dampak polusi kendaraan bermotor terhadap kesehatan manusia sebagai dampak dari pencemaran udara, yang dapat diseimpulkan sebagai berikut:

NO POLUTAN SUMBER AKIBAT TERHADAP KESEHATAN
1. CO Kendaraan bensin yang sistem pembakarannya tidak sempurna a. Mengganggu saluran pernafasan
b. Gas CO masuk ke aliran darah dan bersatu dengan haemaglobin membentuk (COH6) menghambat fungsi normal Hb dalam membawa oksigen.
c. Keracunan berakibat pucat, proses lebih lanjut yang terserang adalah otak dan jantung sehingga dapat menyebabkan kematian.
2. SOx Gas dari belerang yang dibakar a. Iritasi pada saluran pernafasan dan saluran paru paru.
b. Bronchitis.
3. HC Penguapan bensin dari tangki dan karburator kendaraan bermotor a. Pertumbuhan kanker dalam tubuh
b. Sesak nafas
4. NO Pembakaran dari motor diesel a. Iritas pada mata dan saluran pernafasan
5. Pb, Ni , Hg Emisi Gas buang dari mesin diesel a. Bau khas yang mengganggu penciuman
b. Asap kotor yang mengganggu mata/penglihatan
c. Kesehatan tubuh dapat terganggu.
d. Keracunan Pb pada awalnya, mudah marah, lesu,
dan nafsu makan terganggu.
e. Kerusakan pada ginjal.













DAFTAR PUSTAKA


Abubakar, Iskandar, 2000. Kerusakan Lingkungan yang Diakibatkan oleh Sumber Transportasi. http://www.journal ilmiah .go.id/ artikel .htm. di akses , 22 September 2006.

Anonimus, 2006. Bagaimana Cara Memelihara Kualitas Udara yang Bersih. http://forlink.dml.or/pterapb/textile/121.htm, di akses, 18 Maret 2006.

Kastiyowati, Indah., 2005. Dampak dan Upaya Penanggulangan Pencemaran Udara. http://www.pdm-sby.go.id/bacaanartikel.asp?idart. Di akses, 26 Agustus 2006.

Sudrajat, Agung, 2005. Pencemaran Udara, Suatu Pendahuluan . Inovasi vol.5/XVII/ Nov 2005.http://www.tempointeraktif.com/ha/jakarta/2005/01/18/brk.2005018 10.id.html, di akses, 5 Oktober 2006.

Siregar, Edy Batara Mulya, 2005. Pencemaran Udara, Respon Tanaman dan Pengaruhnya pada Manusia, Fakultas Pertanian Program Studi Pertanian USU. http://www.e-USU Repository  2005 Universitas Sumatera Utara. Di akses 10 Oktober 2006.

Tarigen, Lina, 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan Terhdap Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat USU, http://www.e-USU Repository  2004 Universitas Sumatera Utara. Di akses 10 Oktober 2006-10-15










Lampiran. 1

Data pengaruh kesehatan akibat dari pencemaran udara dari bulan September sama November 2005 telah dikalkulasi di 8 propinsi di Indonesia, menurut tabel sebagai berikut:

Tabel. 1. Pengaruh Kesehatan dari Bahan Pencemar di delapan
propinsi , September - November 2005.

Pengaruh Kesehatan Jumlah Kasus
Infeksi Pernapasan Akut
Asma
Bronchitis
Hambatan Kegiatan sehari-hari
Kematian
Peningkatan perawatan Rumah Sakit
Peningkatan perawatan Berobat Jalan
Hari Kerja yang hilang 1.446.120
298.125
58.095
4.758.600
527
15.822
36.462
2.446.352
Sumber data: Word Resources Institute (WRI), Reefs at Risk in Southeast Asia, 2000. dalam Pemantauan Lingkungan Indonesia 2005.

Sekitar 1,446.120 kasus infeksi pernapasan akut telah disebabkan oleh pencemaran udara berupa partikel-paerikel seperti asap dari kebakaran hutan, industri, dan transportasi. Jumlah kasus asma, kematian, dan bronchitis menurut tabel adalah signifikan.
Penyakit yang berkaitan dengan polusi udara telah mencapai proporsi epidemis dibanyak tempat di Indonesia, ada kira-kira 5600 tempat di 26 propinsi yang telah melaporkan terjadinya epidemi pernapasan dalam tahun 2003. Hubungan sebab akibat memerlukan studi lanjutan, karena pengaruh kesehatan merupakan suatu interaksi yang rumit antara dosis, respon dan transmisi penyakit dari kerentanan terhadap bahan pencemar. Dalam hal ini,epidemi tersebut dapat juga merupakan merupakan akibat dari polusi udara di dalam rumha, polusi dari kebakaran hutan atau disebabkab oleh pelayanan kesehatan yang buruk atau pengamananyang buruk terhadap transmisi penyakit.




Tabel. 2. Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan

Kondisi Kesehatan Jumlah Kasus
SPM Timbal CO2
2003 2004 2003 2004 2003 2004
Kematian Prematur 1.160 1.067 346 622
Gejala pernapasan (jutaan) 31.6 29.1 1.98000 3.56000
Penyakit pernapasan rendah 104.121 95.792
Serangan asma 464.148 427.017
Bronchitis Kronis 10.562 9.717
Darah tinggi 211.323 380.382
Serangan jantung tidak fatal 283 509
IQ Decrement* 2.221.303 3.998.345
Adm pgjg sakit pernapasan 2.071 1.905
Kunjungan ruang darat 40.625 37.375
Kegiatan terbatas, Hari 6.380.188 5.870.188
* Angka Nilai
Sumber data: IVERS (Strategi Pengurangan Emisi kendaraan Terpadu) dalam Pemantauan Lingkungan Indonesia 2005.


Tabel.3. Nilai Ekonomis untuk tiap Kasus Kesehatan
yang Berkaitan dengan Polusi Udara.

Bahan Pencemar Pengaruh Kesehatan Perkiraan untuk 2005 dalam rupiah**
PM10 Kematian prematur ( jutaan ) 92
Hari kegiatan terbatas 17.050
Masuk rumah sakit 823.050
Kunjungan ruang darurat 135.170
Serangan asma 24.650
Peny pernapasan rendah pada anak-anak 11.900
Gejala pernafasan 11.900
Bronchitis kronis 57.266
NO2 Gejala pernafasan 11.900
SO2 Kematian Prematur 92.157.163
Peny. pernafasan rendah pada anak-anak 11.900
Ketidaknyamanan pada Orang Dewasa 11.900

Bahan pencemar udara utama tidak perlu bervariasi secara konsisten dengan berjalannya waktu. Tingkat-tingkat SPM dalam tahun 2004 adalah 6 persenlebih rendah dari tingkat-tingkat dalam tahun 2003, yang dapat berasal dari kegiatan konstruksi yang lebih sedikit tahun 2004 (disebabkan oleh krisis ekonomi) daripada dalam tahun 2003. Jadi, ada lebih sedikit pengaruh kesehatan dalam tahun 2004 dari SPM daripada dalam tahun 2003. Sebaliknya, tingkat-tingakt NOx lebih tinggi kira-kira80 persen dalam tahun 2004, disebabkan oleh suatu kombinasi dari jumlah kendaraan bermotor yang meningkat dan pemeliharaan yang buruk (yang tersebut belakangan mungkin disebabkan oleh krisis ekonomi).


Singkatan dan Akronim


SPM = Zat Partikel Padat
NO2 = Natrium Dioksida
CER = Pengurangan Emisi Bersertifikasi
CAP = Program Udara Bersih
PM = Zat Partikel Kurang
PM10 = Zat Pertiikel Kurang dari 10 mikron dalam diameter
PM2.5 = Zat Partikel Kurang dari 2.5 mikron dalam diameter
CO = Karbon Moksida
CO2 = Karbon Dioksida
ODS = Bahan Penipis Ozon
O3 = Ozon
PSI = Indeks Standart Polusi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar